TEMPO.CO, Semarang – Setelah aksi fenomenal sembilan perempuan asal pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, di depan Istana Merdeka pada 11 April 2016, kini 300 penduduk akan menggelar aksi jalan kaki dari Rembang ke Kota Semarang yang berjarak sekitar 150 kilometer. Mereka adalah warga penolak pendirian pabrik PT Semen Indonesia di Rembang.

Joko Prianto dari Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Rembang menyatakan aksi jalan kaki ini akan dilakukan mulai Senin-Jumat, 5-9 Desember 2016. “Peserta berkumpul untuk memulai aksi jalan kaki di Tenda Perjuangan Gunung Bokong Rembang yang berada di dekat tapak pabrik PT Semen Indonesia,” kata Joko, Minggu, 5 Desember 2016. Mereka akan menuju Kota Semarang melalui jalur pantai utara (pantura). Penduduk penolak pabrik semen akan menuju ke Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Joko menyatakan aksi ini bertujuan untuk mengawal putusan peninjauan kembali (PK) Mahkamah Agung (MA) yang mencabut izin pendirian pabrik PT Semen Indonesia di Rembang. “Kami mendesak Gubernur Jawa Tengah segera mencabut izin lingkungan dan menghentikan proses pembangunan pabrik,” kata Joko.

Pada 5 Oktober 2016, Mahkamah Agung memenangkan gugatan peninjauan kembali warga Rembang terhadap PT Semen Indonesia. Materi gugatan itu adalah pembatalan izin lingkungan PT Semen Indonesia di wilayah Rembang.

Di tingkat pertama di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, gugatan itu ditolak hakim pada 16 April 2015. Selanjutnya, warga Rembang mengajukan banding di PTUN Surabaya. Namun pengadilan menolak banding yang diajukan warga Rembang. Peninjauan kembali akhirnya diajukan pada 4 Mei 2016 setelah warga Rembang menemukan novum (bukti baru) atas kejanggalan-kejanggalan dalam persidangan-persidangan sebelumnya. Hasilnya, hakim PK di MA mengabulkan gugatan warga. Joko meminta pendirian pabrik PT Semen Indonesia di Rembang dihentikan.

Sebelumnya, penduduk penolak pabrik PT Semen Indonesia menggelar aksi fenomenal di depan Istana Merdeka, Jakarta, pada 12 April 2016. Sembilan perempuan di tengah terik matahari dengan mengenakan pakaian perempuan pedesaan dan mengenakan caping menyemen kedua kaki mereka.

ROFIUDDIN