TEMPO.CO, Jakarta – Sudah genap 50 hari, 187 petani dari Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, telantar di pengungsian. Konflik tanah membuat mereka terusir dari desanya. Para pengungsi yang mayoritas petani terpaksa meninggalkan ladang dan tanaman yang sudah puluhan tahun mereka garap.

Kini, ratusan petani ditampung di gedung Islamic Center Karawang. Saban hari, penderitaan para petani itu kian bertambah. Seorang petani bernama Awen, 51 tahun, dikabarkan meninggal pada Jumat, 25 November 2016. Ia meninggal setelah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Karawang.

Warga Dusun Cisadang, Desa Wanajaya, tersebut diduga meninggal karena penyakit darah tingginya kambuh. Karni, 30 tahun, kawan karib Awen, bercerita, pada Rabu, 23 November, Awen sempat tergeletak pingsan setelah curhat kepada seorang petugas Dinas Sosial Kabupaten Karawang.

“Setelah curhat kepada petugas, dia langsung tersungkur ke lantai. Nenek Awen mengaku masih trauma dan syok karena pohon mahoni miliknya dibuldozer. Padahal sudah siap panen dan ada yang menawar hingga Rp 40 juta,” ujar Karni saat ditemui Tempo di Islamic Center Karawang, Selasa, 29 November.

Menurut pengakuan Karni, kondisi mental Awen sangat terpuruk setelah mengetahui kebun kayu mahoni miliknya porak-poranda. Selain itu, rumahnya dirusak, perabotan miliknya dijarah, dan kendaraannya dicuri. “Hasil tani dia selama dua tahun hilang. Padahal kayu jadi satu-satunya harapan untuk membiayai kuliah anaknya yang calon perawat,” tutur Karni.

Hal itu dibenarkan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Karawang Rokhuyun A. Santosa. Ia menuturkan Awen sempat ditangani tim medis yang bertugas di tempat pengungsian. “Tim medis memutuskan untuk membawanya ke RSUD, tapi tidak tertolong,” ucapnya kepada awak media, Selasa, 29 November.

Rokhuyun mengatakan saat ini jenazah Awen sudah dimakamkan di kampung halamannya di Kabupaten Subang. “Seluruh perawatan dan pengurusan hingga pemakaman jenazah dibiayai Pemerintah Kabupaten Karawang,” kata Rokhuyun.

Dia berharap para pengungsi yang mengalami gejala kurang sehat agar segera memeriksakan diri kepada tim medis yang ditempatkan di pengungsian. “Kalau memang ada pengungsi yang sakit, segera diperiksa, jangan menunggu sampai parah baru berobat. Pemkab Karawang menjamin semua kebutuhan selama di pengungsian,” ujarnya.

Sebanyak 187 kepala keluarga dari Dusun Kiarahayam, Dusun Cisadang, dan Desa Wanajaya, yang mayoritas petani, mengungsi karena konflik agraria di desa mereka. Sebelum dipulangkan Pemerintah Kabupaten Karawang pada Senin, 14 November lalu, para petani mengungsi ke Jakarta. Di sana, mereka tinggal selama 34 hari. Para petani ini ditampung di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dan Komisi Perlindungan Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras).

Mereka belum berani kembali ke rumah masing-masing karena masih trauma dengan peristiwa bentrok yang terjadi pada Selasa, 11 Oktober 2016. Saat itu, ratusan warga, aparat, dan sejumlah pertugas sekuriti Pertiwi Lestari terlibat perkelahian.

HISYAM LUTHFIANA

Sumber: www.tempo.co